Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KESEHATAN. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Mei 2010

Hati-hati, Konsumsi Es Kopi Picu Kanker

Suka dengan es kopi? Sudah saatnya kebiasaan ini dikurangi. Menurut hasil penelitian Badan Kanker Dunia (WCRF), es kopi merangsang obesitas dengan kanker.

Penelitian The World Cancer Research Fund (WCRF) di beberapa kafe Inggris seperti Starbucks, Caffe Nero dan Costa Coffee, menemukan fakta kalau es kopi merangsang obesitas dengan kanker.

Data WCRF menyebutkan, jenis minuman pekat Berry Mocha Frappuccino dari Starbucks mengandung 561 kalori. Sementara jenis es kopi yang lain mengandung lebih dari 450 kalori, dan untuk jenis es kopi biasa tidak lebih dari 200 kalori.

Seorang peneliti kesehatan menyarankan sebaiknya setiap wanita dalam sehari mengkonsumsi 2,000 kalori, sedangkan untuk pria sekitar 2,500 kalori.

"Faktanya, es kopi yang dijual di pasaran melebihi jatah ideal yang harus dikonsumsi wanita. Biasanya setiap makan siang, banyak wanita gemar mengkonsumsi es kopi. Kalori harus dikonsumsi dari makanan bukan dari minuman," papar Dr Rachel Thompson, manajer program WCRF, dalam pernyataannya seperti dikutip Reuters.

WCRF memperkirakan lebih dari 19.000 pengidap kanker di Inggris terbukti positif mengidap kanker karena obesitas. Dan penyebabnya, paling banyak karena mengkonsumsi es kopi, bukan dari makanan.

Thompson menambahkan, mengkonsumsi es kopi sesekali tidak masalah. Dan akan lebih baik jika mengkonsumsi es kopi tanpa gula, atau mencampurnya dengan bubuk susu atau tambahan sari buah.

"Jika Anda terbiasa rutin mengkonsumsi es kopi dengan gula, akan cepat menambah berat badan Anda. Jika hal ini berlangsung terus akan memicu tumbuhnya kanker, atau risiko terkena diabetes dan sakit jantung," tambah Thompson.

WCRF, yang khusus meneliti minuman berkalori, tidak menyebutkan jenis minuman es kopi yang baik dikonsumsi dan dijual bebas di toko.
SUMBER : www.inilah.com

Read More..

KENALI GEJALA KANKER RONGGA MULUT SEJAK DINI

Kanker rongga mulut - sama seperti jenis penyakit kanker lainnya – belum diketahui penyebabnya. Faktor-faktor pemicunya justru sudah jelas. Kebiasaan merokok, mengonsumsi minuman beralkohol, dan mengunyah sirih dengan tembakau menduduki peringkat tertinggi faktor pemicu ekstrinsik yang paling banyak mengakibatkan kanker rongga mulut. Masih ada beberapa faktor lain seperti kesehatan mulut yang buruk, dan infeksi virus seperti sipilis dan virus papilloma manusia (Human Papilloma Virus/HPV). Kebiasaan menghisap ganja diyakini juga bisa memicu kanker rongga mulut, seperti yang dialami oleh kebanyakan penderita kanker mulut di Amerika Serikat.

Dilihat dari faktor pemicunya, para perokok dan peminum minuman beralkohol tergolong beresiko tinggi untuk mengidap kanker rongga mulut. Begitu pula orang-orang yang memiliki kebiasaan mengunyah sirih dan tembakau. Tembakau mengandung berbagai carcinogen atau substansi pemicu kanker seperti nikotin, polycyclic aromatic hydrocarbons, nitrosoproline dan polonium. Hasil penelitian menunjukkan pengonsumsi tembakau memiliki resiko terkena kanker 8 kali lipat lebih tinggi dibandingkan yang tidak menggunakan tembakau.

Di Indonesia kasus kanker rongga mulut, menurut dr. Simandjuntak SpB, ONK dari RS PGI Cikini berkisar 3-4% dari seluruh kasus kanker yang terjadi. Kebanyakan pengidapnya adalah kaum wanita dari kota kecil yang memiliki kebiasaan menyirih. Sebagian kecil penderita lainnya adalah para pria dari kota besar yang merokok. Usia penderita berkisar antara 50-70 tahun.

Kasus kanker rongga mulut yang terbanyak tercatat di India. Dr. Surendra Shastri, Kepala Bagian Onkologi dari Tata Memorial Hospital, mencatat setiap tahunnya terdapat 300.000 penderita kanker rongga mulut dari 700.000 kasus kanker yang terjadi di India. Kebiasaan mengunyah tembakau dengan buah pinang yang banyak dilakukan masyarakat India disinyalir merupakan faktor penyebab utama. Banyaknya jumlah penderita kanker rongga mulut di India juga disebabkan oleh faktor intrinsik yakni faktor genetik.

Selain ketiga faktor tersebut di antas, kebersihan rongga mulut yang tidak terjaga pun ikut ambil peranan memicu timbulnya kanker rongga mulut. Ada pula kanker rongga mulut yang berawal dari gigi bolong yang tak dirawat atau luka tkronis pada mulut akibat gigi palsu yang letaknya tidak pas. Faktor lain yang tak boleh diabaikan adalah kebiasaan melakukan seks oral. Hasil penelitian Badan Penelitian Kanker Internasional (IARC) di Lyon, Prancis menemukan bukti adanya hubungan antara seks oral dengan penularan infeksi virus yang memicu tumbuhnya tumor atau kanker di rongga mulut.

“Segeralah memeriksakan diri ke dokter, jika mengalami sariawan yang tak kunjung sembuh selama satu bulan.” kata dr. Simandjuntak.Bercak putih (leukoplakia) mirip sariawan pada lapisan dalam rongga mulut ini diistilahkan sebagai lesi atau kelainan pra kanker. Pada tahap awal leukoplakia tidak menimbulkan rasa sakit atau perih. Setelah beberapa lama leukoplakia mengalami penebalan dengan permukaan yang licin. Kebanyakan pengidap kanker rongga mulut menganggapnya sebagai sariawan biasa. Padahal 6-10% dari kelainan ini akan menjadi kanker rongga mulut.

Tanda-tanda lainnya adalah bercak merah (eritoplakia). Sama seperti leukoplakia, eritoplakia ini bentuknya seperti sariawan yang tak kunjung sembuh. Bila mengalami pembesaran, bercak akan berubah seperti kembang kol atau bunga kaktus. Bagian tengahnya rapuh dan berbau. 90% dari eritoplakia akan menjadi kanker rongga mulut.

Karena tidak merasa sakit, kebanyakan pasien baru memeriksakan diri ketika kanker rongga mulut yang mereka idap sudah berstatus stadium lanjut. Penderita umumnya datang dengan keluhan berupa benjolan, tukak atau borok pada bagian-bagian mulut, dan benjolan di leher. Pada stadium lanjut ini penderita sudah mulai menderita rasa nyeri. 50% dari kanker rongga mulut umumnya menyerang lidah (2/3 bagian lidah dari depan) dan dasar mulut. 50% lainnya menyerang pipi bagian dalam dan gusi. Ada pula yang mengidapnya di bagian langit-langit dan bibir bagian dalam.

Tumor yang berkembang menjadi kanker ternyata juga suka main petak umpet. Misalnya tumor tumbuh di bawah gigi. Akibatnya gigi menjadi goyang. Awas! Jangan sembarang cabut. Mencabut gigi yang goyang karena tumor justru akan mempercepat penyebaran sel kanker.

Untuk memastikan pasien mengidap kanker atau tidak, setiap pasien yang mengalami keluhan-keluhan tersebut harus menjalani tes biopsi. Jaringan yang diduga terkena kanker akan dipotong sekitar 2-3 milimeter jaringan untuk diperiksa. Hasil pemeriksaan sudah dapat diperoleh setelah 4-5 hari.

Kanker rongga mulut dapat menyebar secara lokal dan merusak jaringan di sekitarnya jika tidak ditangani secara tepat dan cepat. Ancaman yang lebih serius terjadi jika sel kanker menyebar hingga ke kelenjar getah bening di bawah dagu atau leher samping atas. Penyebaran bisa jadi lebih meluas melalui pembuluh darah hingga ke paru-paru atau tempat-tempat lainnya.

Sejauh ini kanker rongga mulut diatasi dengan operasi pengangkatan jaringan yang terkena kanker. Bila dirasa perlu pasien juga akan diterapi dengan penyinaran atau radioterapi. Kemoterapi biasanya hanya dilakukan kepada pasien yang mengalami kekambuhan atau kondisinya sudah tidak bisa dioperasi.

Sayangnya karena pasien biasanya baru memeriksakan diri ke dokter dalam keadan kanker stadium lanjut, pengobatan melalui operasi menjadi lebih sulit untuk dilakukan. Bentuk rongga mulut dan organ mulut yang kecil turut mempersulit proses operasi pengangkatan kanker. Bayangkan jika bagian yang terkena kanker adalah lidah. Seluruh lidah harus diangkat jika kanker sudah menjalar melewati garis tengah lidah.

Manusia tentu sulit hidup tanpa lidah. Ketidakmampuan menelan dan makan membuat pasien mengalami penurunan berat badan yang drastic. Belum lagi jika kanker telah mengganggu syarafnya. Pasien biasanya merasakan nyeri yang dahsyat di bagian kuping.

Dalam stadium tinggi, kanker rongga mulut tak saja merenggut organ bicara yang sangat berharga, namun juga merenggut kecantikan wajah. Jadi jika ingin tetap bisa mengobrol, menyanyi dan bergoyang lidah sambil menyantap makanan, ikutilah saran berikut ini. Hentikan kebiasaan merokok, menghisap ganja dan minum minuman keras. Tinggalkan kebiasaan menyirih, walaupun nenek-nenek kita dulu mengatakan menyirih baik untuk kesehatan gigi. Yang terakhir jangan lupa selalu menjaga kebersihan rongga mulut dan memeriksakan gigi secara teratur.
Read More..

Asma Sebagian Besar Tidak Terkontrol

Sebagian besar asma tidak terkontrol, padahal penyakit asma sangat mengganggu dan berbahaya sebab dapat berujung pada kematian. Para penyandang asma juga umumnya orang dalam masa produktif.

Demikian, antara lain, terungkap dalam acara ajang wicara ”ACT Now: Kontrol Asmamu!”, Selasa (4/5). Acara itu diselenggarakan dalam rangka Hari Asma Sedunia yang jatuh setiap Selasa minggu pertama bulan Mei. Penyandang asma kerap mengalami gangguan pernapasan karena terlalu sensitifnya saluran pernapasan. Faktor keturunan atau genetika berperan sekitar 30-40 persen.

Dokter spesialis paru sekaligus Ketua Dewan Asma Indonesia Prof Faisal Yunus mengatakan, berdasarkan hasil studi Asthma Insight and Reality in Asia Pasific (AIRIAP) tahun 2007, hanya 2 persen dari 4.805 penyandang asma peserta studi yang masuk dalam kategori asma terkontrol. Di Indonesia, 64 persen dari 400 penyandang asma peserta studi ternyata tidak terkontrol.

Hal itu, antara lain, disebabkan kurangnya edukasi mengenai kontrol asma kepada panyandang asma dan masyarakat pada umumnya. ”Penderita sering kali berobat hanya kalau terjadi serangan, tetapi tidak mengontrol asmanya sendiri sehingga asma tak kunjung membaik,” ujarnya.

Seorang penyandang asma dikatakan terkontrol jika memiliki enam kriteria, yaitu, pertama, tidak mengalami atau jarang mengalami gejala asma (maksimal 2 kali seminggu).

Kedua, tidak pernah terbangun pada malam hari karena asma. Ketiga, tidak pernah atau jarang menggunakan obat pelega. Keempat, dapat melakukan aktivitas dan latihan secara normal.

Kelima, hasil tes fungsi paru-paru (PEF-FEV) normal atau mendekati normal. Keenam, tidak pernah atau jarang mengalami serangan asma. Indikator tersebut dikembangkan oleh Global Initative for Asthma (GINA).

Dalam sebuah riset di RSUP Persahabatan, sekitar 73 persen penderita hanya menggunakan obat pelega sehingga asma tidak terkontrol dan hanya 7 persen menggunakan obat pengontrol asma. Tujuan pengobatan adalah agar asma terkontrol, sementara faktor pemicu perlu dihindari.

Ketua umum Yayasan Asma Indonesia Retno R Raman mengatakan, pada peringatan Hari Asma Sedunia yang tahun ini bertema ”You Can Control Your Asthma” diadakan kampanye ACT Now: Kontrol Asmamu! di antaranya dengan meluncurkan situs web www.bebas-asma.com. Pada situs web itu tersedia isian penilaian atau asthma control test (ACT) yang dapat digunakan sebagai mediasi untuk mengetahui tingkat asma.

Saat ini diperkirakan ada 300 juta penderita asma di seluruh dunia dan prevelansinya terus meningkat tajam—sekitar 50 persen setiap sepuluh tahun. Sekitar 250.000 kematian per tahun di dunia diperkirakan terjadi akibat asma. Sementara itu, untuk mengontrol asma penderita perlu mengonsumsi kortikostiroid atau antiinflamasi. Pada umumnya, penderita asma hanya mengonsumsi obat pelega pada saat terjadi serangan. (INE)
Read More..

Sering Nonton TV, Anak Bisa Bodoh

Semakin lama durasi anak usia di bawah lima tahun (balita) menonton televisi, kondisi kesehatannya semakin terancam. Ada studi yang meneliti 1.300 anak di Inggris yang memiliki tingkat prestasi buruk di sekolah.

Hasilnya, anak itu ketika anak balita (2-4 tahun) terlalu banyak menonton TV, yakni lebih dari 2 jam per hari. Penelitian pertama dilakukan ketika anak-anak itu berusia 2 dan 4 tahun lalu penelitian kedua dilakukan kembali pada anak yang sama ketika mereka berusia 10 tahun.

Anak-anak yang menonton TV terlalu banyak terbukti jarang terlibat kegiatan di kelas dan tingkat pemahaman pada pelajaran Matematika rendah. Linda Pagani dari University of Montreal, yang melakukan penelitian yang diterbitkan di jurnal Archives of Pediatrics and Adolescent Medicine, menekankan tahap awal masa kanak-kanak adalah masa-masa paling penting bagi perkembangan otak dan pembentukan perilaku.

"Orangtua harus memperbanyak waktu berbicara dan melakukan aktivitas bersama dengan anak pada waktu makan, mandi, atau bermain,” ujarnya.
SUMBER : www.kompas.com
Read More..

Brokoli Ampuh Mencegah Kanker Payudara

Brokoli memang telah sering disebut-sebut sebagai salah satu sayuran yang mampu mencegah dan mengatasi kanker payudara. Hal ini telah dibuktikan melalui berbagai penelitian mengenai manfaat brokoli yang dilakukan para ilmuwan.

Senyawa kimia yang ditemukan pada sayuran ini mentargetkan sel-sel yang menjadi makanan bagi pertumbuhan tumor. Kandungan sulforaphane yang tinggi pada brokoli mampu membunuh sel-sel induk kanker ini, dan mencegah perkembangan atau penyebaran penyakitnya.

Para peneliti dari University of Michigan telah berhasil menyelesaikan uji laboratorium terhadap tikus dan kultur-kultur sel. Penulis studi ini, Profesor Duxin Sun, mengatakan, "Sebelumnya telah sering dipelajari bagaimana pengaruh sulforaphane pada kanker, namun studi ini menunjukkan bahwa manfaatnya adalah dalam menghambat sel-sel induk kanker payudara."

Setiap tahun, di Inggris ditemukan sekitar 46.000 kasus kanker payudara, dengan kasus kematian sebanyak 12.000. Perawatan kemoterapi belakangan ini tidak bekerja melawan sel-sel induk kanker, yang menyebabkan penyakit ini bisa timbul kembali dan menyebar ke area lain. Menyingkirkan sel-sel induk kanker diyakini sangat penting untuk mengontrol perkembangan tumor.

Karena percobaan laboratorium ini tidak diujikan pada pasien kanker payudara, para peneliti hanya menyarankan agar kita tidak menambahkan suplemen sulforaphane dalam pola makan kita. Hal ini dimaksudkan sebagai antisipasi untuk mencegah atau mengatasi kanker.

Saat ini mereka juga sedang mengembangkan metode mereka sendiri untuk mengekstrak dan melindungi bahan kimia tersebut, dan akan melanjutkan percobaan klinis untuk menguji prosesnya.
SUMBER : www.kompas.com
Read More..